Senja sudah berarak di ufuk Barat bumi Parahyangan ketika seorang sahabat saya menarik saya ke salah satu toko buku di pojokan kota Bandung. Dia memang penikmat buku. Dan kenikmatan itu dia tularkan juga keadapa saya. Tak heran, saya pasrah saja ketika waktu-waktu senggang itu kami habiskan dengan berdiri mematung di deretan rak buku.
Dengan sumringah, dirinya memperlihatkan sebuah novel bersampul merah keemasan. Di sampulnya tertuang tulisan dengan judul, “Kuhantar ke Gerbang,” karya Ramadhan K.H. Judulnya yang kurang ‘greget,’ pengarangnya yang tak familiar di telinga saya membuatku hanya meliriknya sepintas lalu mengalihkan pandangan pada buku lain. Tapi sahabat saya punya bakat terpendam dalam seni bujuk membujuk. Dipaparkannya bagaimana novel itu akan mengganti kaca mata yang kugunakan untuk melihat Soekarno, tokoh yang sedari mudah sudah kupuja.
Kami bersepakat untuk membeli novel itu dengan patungan dan dibaca bergantian. Pada akhirnya seperti biasa, dia mengalah dengan membayar terlebih dahulu dan mengizinkan saya membaca terlebih dahulu. Dan seperti biasa, saya lupa membayarnya. Ahahaha. (*bagian ini gak penting sih)
Anyway,
Novel ini mengajarkan saya untuk tidak memandang ringan pada ‘detil-detil’ sejarah yang mungkin jarang dibahas di ruang-ruang kelas. Bagi saya pribadi, benih-benih kebangsaan yang akan melahirkan satu bangsa besar di garis Khatulistiwa ini adalah maha karya dari nama-nama besar seperti Hatta, Idris, Malaka, dan tentu saja, tokoh kesayangan saya, Soekarno. Kaum-kaum terpelajar yang mengguncang dunia lewat pikiran dan gagasan, di dalam bingkai sejarah itu, saya alpa untuk menaruh kemungkinan ada satu perempuan tak berpendidikan di dalamnya.
Ketika para guru menceritakan dongeng sejarah di bangku sekolah, saya jatuh cinta pada Soekarno. Saya juga mengenal Soekarno dari cerita-cerita paman dan kakek saya. Saya memuja karismanya yang didengung-dengungkan oleh berbagai buku sejarah. Saya menggilai kemampuannya berdiplomasi dan menjadi tokoh kesayangan dunia berkembang, dan saya menysukuri peranan yang dimaikannya dalam menorehkan kebangunan Indonesia. Namun melihatnya sebagai satu pribadi yang utuh, sebagai manusia yang tidak berstatus setengah dewa, belum pernah saya coba.
Melalui novel ini, saya mengenal Soekarno yang lain. Soekarno yang dari kita bisa lihat dari kaca mata seorang perempuan sederhana bernama Inggit Ginarsih.
Di antara nama-nama besar pengukir sejarah bangsa, nama Inggit Garnasih mungkin jarang mampir di telinga pemuda masa kini. (Jarang, tidak pernah lebih tepat tampaknya). Namanya barangkali hanya akan kita temukan sekilas dalam memoar mengenai Soekarno, dicatat sebagai istri kedua Soekarno. Titik. Peran gadis desa sederhana ini dalam sejarah kebangsaan kita hanya dilabel dalam tiga kata: istri kedua Soekarno. Tak kurang, tak lebih.
Lahir di Bandung pada tahun 1888, intervensi ilahi mempertemukan Inggit dengan Soekarno dengan cara yang tidak biasa. Inggit muda menikah dengan Haji Sanusi yang kemudian memberikan tumpangan pada Soekarno ketika Soekarno akan bersekolah di Bandung (di ITB masa sekarang). Dengan kata lain, Inggit adalah ibu kos dari Soekarno.

Inggit dan Soekarno. Sumber: indonesiasetara.org
Seiring berjalannya waktu, Soekarno yang jiwa mudanya masih membara banyak menghabiskan waktu dengan ibu kosnya yang cantik dan kesepian. Tak bisa dielakkan, asmara, atau mungkin lebih tepatnya nafsu, mengambil tempat dan mengambil alih. Selepas menceraikan isteri pertamanya, hubungan Soekarno dan Inggit telah melewati batas kewajaran hingga Soekarno meminta Inggit dari Sanusi serta melamarnya di kediaman orang tua Inggit. Skandal ini membuat saya sedikit terkejut. Saya pernah mendengar dan membaca pandangan mengenai Soekarno dan perempuan. Tetapi menikahi induk semang dengan memintanya secara langsung kepada suaminya, itu benar-benar di luar apa yang saya bisa bayangkan.
Setelah menikah, tantangan menghadang Inggitdi depan mata. Menjadi istri Soekarno tidak mudah. Jika bersama Sanusi maka Inggit siap menerima nafkah materi, maka dengan menikahi Soekarno, Inggit harus bersiap mengikatkan tali pinggang dan membanting tulang. Inggit harus bersusah payah membiayai pendidikan Soekarno hingga selesai. Inggit pula yang menjadi mesin pencetak uang untuk membiayai kegemaran mahal Soekarno dalam berorganisasi. Ternyata mantan Presiden kesayangan saya ini pernah bergantung hidup pada istri. HA! Selama masa-masa perjuangan, Inggit menjadi pendengar, pendukung, penghibur Soekarno yang paling utama.
Saya kemudian semakin memahami jasa Inggit Garnasih bagi Indonesia melalui pementasan Teater Monolog berjudul, Inggit, yang diperankan oleh Happy Salma. Jika melalui tulisan Ramadhan K.H. saya bisa menyesapi hidup Inggit lewat kata, maka monolog Happy Salma mampu membangkitkan getaran kesedihan, ketakutan, kemarahan yang dirasakan oleh Inggit selama mendampingi Soekarno.
Dalam pementasan teater itu, saya diajak untuk bisa menyesap keluh kesah dan kesabaran Inggit kala mengorbankan hidup bagi Soekarno. Inggit berhasil menghidupkan kenangan ketika Inggit harus berjalan puluhan kilometer dibawah siraman hujan demi menemui Soekarno yang ditahan di LP Sukamiskin. Belum lagi Inggit seringkali harus dipisah dengan tanah kelahiran dan keluarga serta mengikut suami ke tanah pengasingan.
Tanpa Inggit, Soekarno mungkin tak akan bisa mengikuti semua aktivitas politiknya yang memakan dana cukup besar. Tanpa Inggit, Soekarno mungkin akan segera patah arang dan hilang arah ketika harus terputus dari semua kontak dalam pengasingan. Tanpa Inggit, kita mungkin tidak akan mengenal Soekarno sebagaimana kita mengenal dan memujanya sekarang.
Saya berharap cerita akan sampai di sana. Titik.
Namun sejarah masih belum puas menempa Inggit. Ketika dalam pengungsian di daerah Bengkulu, Soekarno jatuh hati pada anak angkatnya yang kita kenal dengan nama Fatmawati. Bah! Perempuan mana yang tak geram kala membaca bagian ini. Lalu tepuk tangan pantas diberikan ketika Inggit lagi-lagi menunjukkan ketangguhannya sebagai perempuan. Setelah beberapa waktu bertahan, Inggit akhirnya dengan tegas menolak dimadu oleh Soekarno. Dia lebih memilih perpisahan dengan pria yang selama puluhan tahun telah menerima pengabdiannya yang tanpa pamrih.
Benar-benar kisah sedih dari bunga bangsa. Tak pantas jika sosok ini dibiarkan berlalu begitu saja. Bagi kita kaum awam (dalam hal ini saya juga merepresentasikan orang kebanyakan), tentu menarik untuk menelaah nama-nama besar pencetak sejarah tanpa harus repot memperhatikan detil kecil dibalik nama-nama besar itu.
Sekalipun orang bijak berkata bahwa “Dibalik Kesuksesan seorang Pria, pasti ada wanita hebat dibelakangnya,” toh jarang sekali detil kecil itu mendapat tempat dalam buku-buku sejarah kita. Ketika saya berselancar di dunia maya, saya tidak sengaja menemukan satu tulisan berjudul, Perjuangan Ibu Inggit Garnasih. Di dalam paparan singkatnya, penulis membuat satu pertanyaan menggelitik, apa yang akan terjadi jika Soekarno tidak pernah bertemu dengan Inggit Garnasih? Jawabannya tentu hanya kita bisa temukan dalam kerangka kata: “mungkin.” Ada kemungkinan Soekarno tidak akan menjadi sosok yang kita kenal seperti sekarang
Di akhir cerita, saya menemukan bahwa sahabat saya benar adanya, novel ini berhasil membongkar pandangan saya mengenai Soekarno. Jika saya selalu membayangkan Soekarno sebagai sosok yang selalu tegar, maka melalui novel ini saya melihat sosok manusia biasa dari Soekarno. Dan dari sana pula saya belajar mengenai pernanan khalik melalui keperkasaan seorang perempuan yang bisa memengaruhi sejarah.
Bagaimana Inggit memainkan perannya dalam sejarah Indonesia disimpulkan dengan manis oleh Prof. S.I. Poeradisastra ketika menuliskan kata pengantarnya pada novel Kuantar ke Gerbang. Dia berujar, “Separuh dari semua prestasi Soekarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih di dalam Bank Jasa Nasional Indonesia. Inggit telah menjalankan tugasnya dengan sempurna, lebih dari seorang istri.”
Pada akhirnya saya menyadari bahwa kapasitas saya tentu tidak memadai dalam menghidupkan kembali sosok Inggit Garnasih dalam tulisan sederhana ini. Saya pun menyadari keterbatasan saya dalam menuliskan resensi buku, hanya saja kenangan akan Inggit Garnasih jelas penting untuk senantiasa kita hidupkan. Oleh karena itu saya menganjurkan kawan untuk mengambil waktu sejenak untuk membaca sendiri novel Kuantar ke Gerbang. Ataupun menjenguk beberapa resensi yang dapat kita temukan dalam laman-laman berikut:
http://blogbukuhelvry.blogspot.com/2011/08/kuantar-ke-gerbang.html#.Ukid7D_p9DA
http://sejarah.kompasiana.com/2012/08/21/jejak-cinta-inggit-garnasih-mengantarkan-singa-podium-ke-gerbang-kemerdekaan-481092.html
http://rosodaras.wordpress.com/tag/inggit-garnasih/
http://novelygkubaca.blogspot.com/2011/06/no.html