Raise the Red Lantern! Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada 1990 sebagai Wives and Concubines. Novel yang ditulis oleh Su Tong ini berhasil memenangkan Man Booker Asian Literary Prize dengan total hadiah 60.000 pound (sekitar 8,4 miliar rupiah).
Mengambil setting China di era 1920an, Novel ini menceritakan kehidupan Teratai, seorang mahasiswi yang menikah dengan Chen Zuoqian, seorang tuan tanah, setelah ayahnya tewas bunuh diri. Teratai dinikahi sebagai istri ke-empat. Secara keseluruhan, novel ini berusaha menggambarkan persaingan ke-empat istri untuk mendapatkan perhatian Chen Zuoqian.
Su Tong dengan amat baik menggambarkan depresi yang dialami oleh seorang wanita terdidik seperti Teratai ketika harus berhadapan dengan kondisi dimana kodrat kewanitaannya direndahkan sedemikian rupa. Rasa berharga dan keutuhan para istri ditentukan dari seberapa sering Chen Zuoqian berkunjung ke kamar mereka. Teratai sendiri memutuskan untuk keluar dari persaingan tersebut dan mulai tidak perduli dengan urusan rumah tangga dan tenggelam dalam kesedihan dan rasa frustasinya. Sementara itu tokoh Chen seolah-olah tidak mengerti atau menyadari rasa frustasi yang perlahan-lahan menggerogoti ke-empat istrinya, menggerogoti rumah tangganya.
Konflik rumah tangga yang terbesar terjadi ketika Chen Zuoqian menjadi impoten dan persaingan di antara ke empat istri semakin memanas. Teratai dan Karang, istri ketiga Chen, menolak merendahkan diri mereka sedemikian rupa untuk mendapatkan perhatian Chen Zuoqian. Keduanya berakhir mengenaskan.
Saya kira novel ini ditulis dengan sangat apik, jujur, vulgar namun tidak erotis dan membawa imajinasi kita untuk memahami rasa depresi yang dihadapi ke-empat istri. Pernikahan poligami yang dilakoni Chen Zuoqian telah menyebabkan semua orang dalam keluarga tersebut menjadi tertekan. Dan dalam pernikahan poligami, perempuanlah yang akan menjadi korban. Tokoh Teratai yang merupakan sentral dari cerita ini, menjadi refleksi bagaimana kecerdasan dan pendidikan yang telah diterimanya membuatnya semakin sulit menerima situasi. Dengan segala kesadaran, Teratai membela nilai keperempuan dan kemanusiaannya dan memutuskan untuk berdiri di luar persaingan.
