Perempuan Asia Enggan Menikah: Tanya Mengapa?

oleh Morentalisa

Sebuah artikel di Economist  mengemukakan bahwa jumlah perempuan  Asia yang memutuskan untuk tidak menikah semakin tinggi. Sepertiga dari perempuan Jepang berusia 30an memutuskan untuk tidak menikah. Di Bangkok, 20% perempuan berusia 40-44 tahun memutuskan untuk tidak menikah, sementara di Singapura jumlahnya mencapai 27 % (Economist, Agustus 2011).

Artikel tersebut memang menarik dan controversial serta memberi efek kejut pada saya pribadi. Pasalnya dalam pemahaman saya, konteks keagamaan dan juga budaya masyarakat Asia menjadikan pernikahan sebagai salah satu pilar utama dalam kehidupan. Saya kira, anggapan bahwa tanpa pernikahan, seorang wanita dan seorang laki-laki tidak lengkap, masih menjadi arus utama pemikiran di masyarakat Asia, terlebih Indonesia. Sehingga saya tertarik untuk mencermati dan mengkaji secara sederhana berbagai fakta dan pemikiran yang dituangkan dalam artikel tersebut.

Terdapat sejumlah alasan melatarbelakangi keputusan wanita untuk menikah, misalnya dengan majunya tingkat pendidikan bagi perempuan serta terbukanya kesempatan yang lebih luas bagi perempuan untuk bekerja di berbagai sektor. Kehadiran pendidikan dan pekerjaan yang mapan menjadikan single sebagai salah satu pilihan yang layak untuk dipertimbangkan. Namun ada satu  faktor besar yang dianggap menjadi latar bagi perempuan Asia untuk tidak menikah: yakni beratnya beban yang harus ditanggung perempuan Asia dalam pernikahan. Dalam nilai-nilai tradisional keluarga Asia, perempuan adalah tiang atau pilar utama dalam keluarga. Perempuan diharapkan mampu mengatur rumah tangga mulai dari keuangan, kebersihan, pendidikan anak, kesehatan hingga urusan dapur dan kamar mandi. Hanya era modern dimana kebutuhan ekonomi finansial serta kebutuhan untuk aktualisasi diri semakin meningkat, perempuan dihadapkan pada beban tambahan (atau beban utama) di dunia pekerjaan. Maka setelah menghabiskan waktu dan tenaga di dalam keluarga, perempuan masih harus berhadapan dengan tuntutan dalam pekerjaan.

Selain itu, perempuan dalam pernikahan tidak hanya bertanggung jawab pada pribadi, suami dan anak-anaknya sendiri, melainkan bertanggung jawab pada seluruh keluarga besar di kedua belah pihak. Pernikahan di model keluarga Asia memang mengharuskan pasangan tidak hanya menikahi masing-masing pribadi, namun menikah dengan seluruh isi keluarga. Tak berlebihan jika disebutkan kalau pernikahan di dalam tradisi masyarakat Asia bukan dua pribadi menjadi satu, tapi dua keluarga menjadi satu. Pernikahan antar keluarga ini mengharuskan perempuan Asia untuk peka terhadap kebutuhan

Dengan kata lain, dalam pernikahan, perempuan diharapkan untuk menjadi seorang istri, seorang ibu, seorang anak, seorang menantu, seorang ipar, seorang saudara, seorang sahabat, dan seorang pekerja. Dalam  meluasanya kemodernisasian dan kebebasan dalam memilih, banyak perempuan Asia yang merasa beban tersebut teramat berat. Mereka merasa bahwa tidak bisa menjadi dan menjalani semuanya. Maka pilihan termudah adalah: memutuskan untuk tidak menikah.

Selain itu, arus modernisasi dan kampanye kesetaraan gender telah membuat perempuan-perempuan Asia mampu mencapai posisi-posisi yang sebelumnya hanya bisa dinikmati oleh para laki-laki. Jika dahulu perempuan dihargai lebih rendah dari laki-laki, kini proporsi pendapatan perempuan dibandingkan dengan laki-laki dapat dikatakan sudah setara, bahkan tidak lebih. Tidak jarang perempuan yang memiliki penghasilan di atas rata-rata laki-laki. Sehingga perempuan-perempuan Asia tidak lagi harus bergantung pada Pria untuk penghasilan kebutuhan. Ditambah dengan mulai diterimanya konsepsi ‘pilihan melajang’ terutama di kota-kota besar, mendorong perempuan Asia untuk memilih sendiri.

Saya pribadi merasa bahwa setiap laki-laki dan perempuan memang memiliki kebebasan untuk menentukan apakah dirinya akan diikat dalam pernikahan atau tidak. Keputusan untuk mengikat diri dalam konsepsi pernikahan adalah pilihan masing-masing individu yang harusnya tidak karena didorong oleh stigma dalam masyarakat. Karena pada akhirnya yang menjalani kehidupan rumah tangga adalah pribadi itu sendiri, bukan masyarakat.

Namun saya tetap merasa bahwa kondisi tersebut amat disayangkan, karena suatu bangsa dibangun mulai dari keluarga. Keluarga menjadi elemen terkecil namun menjadi yang terpenting dalam proses pembangunan dan pertumbuhan suatu bangsa. Dan keluarga yang sehat dibangun dalam dasar pernikahan, dalam dasar ikatan yang mengikat masing-masing individu, baik secara agama, moral maupun hukum.  Pernikahan menjadi lembaga paling efektif, paling baik dan paling sempurna untuk membesarkan dan mendidik anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa.

Terkait beban perempuan dalam pernikahan yang menjadi pondasi utama dari artikel tersebut memang patut dicermati. Angin modernisasi dan kesetaraan memang memberikan angin segar bagi perempuan modern untuk mengekspresikan diri, mengingkatkan kapasitas serta mengejar karir. Namun kondisi dan konteks masyarakat yang ada membuat  angin kebebasan tersebut menjadi beban tersendiri. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, perempuan Indonesia masih harus berhadapan dengan stigma bahwa urusan perintilan rumah tangga masih menjadi urusan dan tanggung jawab perempuan. Masih sangat jarang ada laki-laki yang mau diajak berbagi tanggung jawab untuk menyentuh urusan perintilan seperti kebersihan, makanan dan dapur. Belum lagi urusan pengaturan keuangan yang secara umum masih dipegang oleh perempuan. Perempuan Indonesia yang ingin menikah namun tetap mendukung tulang punggung keluarga harus ekstra cermat serta berhikmat untuk bisa menjadi ibu, istri, bawahan atau atasan, karyawan, anak, sahabat serta menantu yang baik.

Sehingga pembicaraan mengenai tugas pokok dan fungsi dari masing-masing suami dan istri menjadi sangat krusial dibicarakan sebelum menikah. Para pria diharapkan untuk bisa bijak dan meninggalkan rasa enggan untuk bersentuhan dengan urusan perintilan rumah tangga.

Untuk konteks Indonesia, dilema perempuan untuk bisa berprestasi di bidang pekerjaan serta tantangan untuk bisa senantiasa hadir di tengah-tengah keluarga dijawab dengan hadirnya asisten rumah tangga (PRT). Keluarga-keluarga muda Indonesia mengalami blessing in disguise, sebuah anugerah ditengah kondisi yang menyedihkan. Keluarga muda dari kelas menengah diuntungkan dengan sulitnya lapangan pekerjaan yang membuat ‘persediaan’ asisten rumah tangga masih cukup besar. Hanya saja patut untuk menjadi pertanyaan kita, bagaimana jika pertumbuhan perekonomian telah menyentuh desa-desa sehingga para perempuan desa kemudian berhenti mencari pekerjaan menjadi asisten rumah tangga di kota? Apakah para perempuan yang memutuskan untuk menikah namun tetap bekerja sudah siap untuk menghadapi tantangan tersebut?

Jika  masa-masa itu tiba, maka diskusi mengenai tugas pokok dan fungsi suami dan istri dalam pengaturan rumah akan menjadi sangat signifikan.

Pada akhirnya pilihan untuk hidup melajang atau berkeluarga merupakan pilihan personal yang mungkin tidak bisa digeneralisir latar belakangnya. Namun saya kira, paparan-paparan dalam artikel tersebut cukup menarik untuk dicermati dan menjadi koreksi ataupun instropeksi bagi perempuan muda Indonesia.

Ps: Sebagai perempuan muda yang diberi anugerah untuk menikmati pendidikan dan juga pekerjaan, saya pribadi memang sedikit banyak mengalami dilemma di atas. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana banyak perempuan-perempuan muda yang menikah dan kemudian berakhir frustasi karena besarnya tantangan dan beban dalam pernikahan di era modern ini. Di sisi lain, pendidikan dan pengalaman yang saya dapatkan memberi kemungkinan untuk bisa menjadi mandiri secara finansial. Namun sebagai seorang Kristen, saya merasa panggilan untuk berkeluarga menjadi sebuah panggilan yang tidak bisa saya abaikan. Sehingga dalam waktu-waktu kesendirian, saya harus mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu, seorang istri, seorang anak, seorang menantu, seorang sahabat serta seorang bawahan atau atasan yang bijak nan berhikmat. Wish me luck :)  

Leave a comment

1 Comment

  1. Nasibdtkom

     /  January 29, 2012

    Naek busway → digrepe.. Naek kereta → dicopet ., Naek angkot → diperkosa ., Udah jalan kaki pun → ditabrak Xenia.. Bahkan Ngesot aja ditendang satpam ~________~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.