peacemaker
Just another WordPress.com weblog^mari berhenti sejenak^
Postingan kali ini ditulis di sebuah laboratorium komputer di Fakultas. Tidak ada yang istimewa. Isinya hanya sekumpulan komputer dan suara ketak-ketik dari mereka yang sibuk bergumul dengan dunia maya.
Lalu aku melayangkan pandangan ke arah jendela kaca. KDi luar angin sedang berhembus kencang dan daun-daun sibuk menari-nari tanpa irama. Cukup lama pandangan kuarahkan ke sana. Sampai-samapi aku tersadar dan bertanya-tanya sudah berapa lama?
Dan aku mulai melihat hal lainnya. Suatu fakta bahwa terkadang hal-hal disekitar kita tidak lagi menjadi terlalu penting. Rumput, pohon, awan, orang-orang yang berlalu lalalng, semuanya menjadi makhluk-makhluk asing penyemarak kehidupan kita. tidak lebih.
Kita (dalam hal ini lebih mengacu pada kata ’saya’) menjadi terlalu sibuk dengan tugas, tuntutan, capaian, dan waktu terus memburu kita. Semuanya menjadi sangat cepat. Tidak adalagi waktu unutk sekadar menikmati atau bahkan mengucap syukur atas apa yang telah ditata dengan begitu luar biasa (oleh Dia) dalam hidup kita.
‘changes’
Ada banyak orang yang sangat menyukai perubahan dan datangnya hal-hal baru. Tantangan baru. Pengalaman baru. Dan segala sesuatu yang berbau baru ( baju baru ato pacar baru misalnya)
Tapi tak sedikit juga yang takut pada perubahan (‘mengacu pada diri sendiri ^^)
Kadang perubahan membuatku merasa takut. Bukan takut untuk menghadapinya. Karena aku punya segudang hal yang bisa mensuplai keberanian itu. Tetapi lebih karena aku takut akan perginya hal-hal lama.
sesuatu yang berubah, dan kalau aku berpaling, maka lenyaplah ia.
Takut akan hilangnya dunia yang kukenal. sesuatu yang bisa kupegang
’sahabat’
…Someone tells me that a friend is like a balloon, once u loose it, there’ll be no way back for her…
tapi kemudian aku bertanya pada diriku, apakah aku sahabat yang demikian? Sehingga ketika para sahabatku tidak mengikatku sedemikian rupa maka aku tidak akan pernah kembali dan menjadi sahabat bagi mereka?
Tidak
aku tidak ingin menjadi sahabat yang demikian. Bagiku sahabat adalah orang-orang yang untuknya sebuah komitment telah diletakkan. Tidak menjadi masalah seperti apa dia… Apa yang dilakukannya, dan seberapa banyak kekecewaan yang diletakkannya, dia tetap menjadi sahabat…
naif?
mungkin
Tapi aku hanya menggambarkan apa yang aku alami. Karena seringkali aku tidak memenuhi standar seorang sahabat. Tapi toh tetap teman-temanku ada dan berdiri siaga. Memberi telinga saat orang lain memalingkan wajah. Memberi pelukan saat yang harusnya kuterima adalah cacian. Menjadi bagian penting dalam dasar hidupku…
dan aku ingin seperti mereka
menjadi seorang sahabat
‘the best one’
…If there’s someone ask me, what’s the best i have in life, I’ll answer: My deaR God…
Lahir dari keluarga tanpa ayah, membuatku mengalami ketergantungan yang sangat parah terhadap kehadiran Tuhan. Ibuku, berulangkali menekankan tentang betapa hanya Tuhan yang menjadi batu sandaran, menjadi pegangan dan sumber kekuatan.
Pelan-pelan, Tuhan menjadi segalanya bagiku. Sulit untuk digambarkan, tetapi alam bawah sadarku dan imajinasiku menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidupku.
Alkitab, yang penuh kata-kata sulit dan prosa-prosa yang rumit serta wahyu yang hampir mustahil untuk dimengerti, menjadi harta karun tersendiri bagiku. Setiap hari, aku berusaha membaca dan mencerna halaman demi halaman dari isinya. Menemukan bagaimana rupa Tuhan.
‘in their eyes’
seorang gadis kecil mendekatiku. Umurnya mungkin baru mencapai tujuh. Delapan, sembilan, atau mungkin sepuluh. Entahlah.
Matanya yang bening hanya sekilas menatapku. Namun benar-benar menyentuh hatiku dengan embun kehidupan. Matanya begitu bening, begitu bersih, sehingga aku bisa katakan bahwa belum ada sampah di matanya.
…karena mata adalah cerminan hati kawan…
Tapi, kengerian segera melandaku saat menyadari apa yang akan terjadi padanya di tahun-tahun yang akan datang. Siapa yang akan melindunginya dari jahatnya waktu-waktu yang ada. Ngeri membayangkan bagaimana masa akan merampas kejernihan di matanya. Karena apa yang bisa diharapkan dari jalanan?
Tidak ada…
Jalanan menjadi monster mengerikan yang merenggut kemurnian dari mata mereka. Membebani hati dengan perihnya kehidupan. Apa yang harus kulakukan?
Aku tidak ingin mereka berlalu begitu. Meninggalkan kehampaan. Dan duka yang menyesakkan, yang tak berkesudahan.
aku pasti tidak bisa
tidak akan pernah bisa
Satu lidi akan segera patah jika mencoba membuang seluruh daun busuk yang jatuh ke halaman.
Tapi, jika kamu menjadi lidi-lidi lain yang bergerak bersamaku…Aku yakin kita pasti bisa…
…karena mereka adalah malaikat-malaikat kita… tunas-tunas muda yang ditanam di ladang kita…
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



