peacemaker

Just another WordPress.com weblog

we dont know what we’ve got, till its gone

‘Politik Perlindungan Penyu’ demikianlah bunyi sebuah artikel di sebuah surat kabar yang saya baca siang itu. Seorang teman, sebut saja namanya x kebetulan melihat artikel tersebut langsung merebut surat kabar tersebut dan membacanya sekilas. “Apa, politik perlindungan penyu?? Bahkan untuk penyu pun ada upaya politik. Penyu?? Ckckckck ” Lalu dia menghela nafas dan mengembalikan surat kabar itu ke tangan saya.

Saya yang heran langsung bertanya, “Lha, kenapa x?” Dengan tatapan penuh kebencian (ini hanya tekhnik hiperbola yang saya pergunakan) dan suara meninggi dia menjawab, “Penyu?? Penyu?? Apa pentingnya penyu?”

Mendengar jawaban yang menurut saya tidak mengandung unsur pendidikan tersebut, nada suara saya pun ikut-ikutan meninggi, “Yah pentinglah.” Maklum, walaupun saya bukan aktivis lingkungan sejati, sedikit banyak saya menaruh perhatian pada konservasi lingkungan hidup.

“ Pentingan mana sama orang yang mati kelaparan. Coba, ada satu anak yang mati kelaparan di Somalia sana, ga ada kan yang teriak-teriak.”

“Adalah” suara saya mulai melemah. “Ngga ada, mana ada coba yang peduli. Ini, malah penyu.”

Dengan senyum sinis, dia meninggalkan saya yang duduk merenungi pembicaraan berkualitas di atas.

Mungkin percakapan di atas hanya berlangsung kurang dari lima menit. Namun cukup untuk membuat saya memikirkan ulang mengenai keperdulian saya terhadap para binatang langka di luar sana yang sedang mengalami nasib tragis di luar batas. Mengapa pada akhirnya, saya dan kita semua harus perduli pada gajah, pada orang utan, pada burung kasuari, atau pada penyu dan hewan-hewan langka lainnya. Mengapa pemerintah perlu mengucurkan dana ratusan juta rupiah untuk meng-konservasi mereka. Apa yang salah kalau mereka punah.

Sebagai orang yang mengaku berpendidikan dan sudah kenyang dengan kampanye para aktivis pecinta lingkungan, tanpa pikir panjang saya langsung menjawab, “Tentu saja salah kalau mereka punah.” Tetapi saya sendiri tidak punya pijakan yang cukup kokoh untuk memperkuat argumen saya bahwa melindungi makluk-makhluk tersebut sama pentingnya dengan menyelamatkan satu orang anak yang sedang kelaparan di Somalia sana.

Sampai saya kemudian mendengar sebuah lirik lagu berjudul Big Yellow Taxi, ‘…We don’t know what u’ve got till its gone,…’. Ya, saat ini saya memang tidak tahu persis apa yang akan terjadi pada dunia kalau mereka tidak lagi ada. Saya tidak bisa menjawab, memangnya kenapa kalau mereka tidak lagi menghuni bumi. Tetapi akan menjadi sangat terlambat saat kita menyadari bahwa kita membutuhkan mereka saat kita tidak lagi memiliki mereka di bumi.

Hal yang sama terjadi dengan hutan kita bukan?

Dahulu, siapa yang menyangka bahwa sekumpulan dahan coklat dan semak belukar memiliki arti penting bagi kelangsungan hidup manusia di bumi. Tetapi lihat sekarang, tidak ada yang menyangkal bahwa pada akhirnya hutan memainkan peran signifikan pada kehidupan kita.

Mereka pasti ada karena sebuah alasan. Keseimbangan alam membutuhkan mereka. Alam membutuhkan mereka karena saya percaya bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu saat menciptakan binatang-binatang itu.

Saya memang bukan pakar lingkungan yang bisa menjelaskan mengapa pada akhirnya keberadaan mereka penting untuk dipelihara tetapi, pemikiran sederhana di atas mungkin cukup bagi saya untuk tidak memelihara ‘orang utan’ jika saya kaya nanti. Dan saya pun mengundang teman-teman untuk sedikit memperhatikan hewan-hewan malang yang tidak bisa membela dirinya sendiri.

our difference

Satu hal yang kadang membuat saya bingung adalah paradoks yang terjadi di dalam hidupku. Yang pertama adalah bahwa saya hidup ditengah masyarakat yang majemuk baik suku, ras, maupun agama (SARA). Tetapi entah kenapa, persoalan yang menyangkut ketiga hal tersebut justru dijadikan tabu. Menjadi sesuatu yang tidak halal untuk dibicarakan.

padahal saya dan orang-orang yang ada disekitar saya hidup setiap hari dengan perbedaan itu. Namun entah mengapa, fakta bahwa masing-masing dari kami adalah berbeda merupakan sesuatu yang sepertinya berusaha untuk disangkal. Tabu untuk diungkapkan.

pada akhirnya, generasi muda seperti saya menjadi janggal untuk membicarakan perbedaan-perbedaan yang ada. Jangankan turut ber-tenggang rasa (seperti yang umum dibacakan dalam buku PPKN), membicarakannya saja pun sudah sulit.

Masing-masing kelompok seperti saling megnasingkan diri dari kelompok lainnya. Sangat jarang ada fasilitas untuk menciptakan suatu dialog antar kelompok. Kalaupun ada, embel-embel politik dan lain-lainya pasti ada.

Hal ini kemudian membuat saya bertanya-tanya, apa yang salah dengan perbedaan. Mengapa perbedaan menjadi suatu masalah yang cukup besar di antara kita? Bukankah pada dasarnya semua manusia itu tidak ada yang sama?

Mengapa asal seseorang dan kepercayaan apa yang dimilikinya menjadi suatu hal yang sulit untuk diterima?

give something

Kuliah di Universitas Indonesia memberi saya banyak kesempatan yang mungkin orang lain tidak miliki. Termasuk kesempatan melihat berbagai ironi kehidupan yang cukup banyak memarakkan kehidupan kampus. Salah satunya mungkin kesempatan bagi saya untuk melihat puluhan tubuh yang dihiasi kain-kain lusuh duduk manis diantara lalu-lalang cerahnya warna-warni baju di jalan kecil menuju kampus.

Iba. Itu yang segera terasa. Terlebih saat saya menyadari di mana saya berpijak dan bersandar untuk membekali diri dengan ilmu: di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sebuah institusi yang seharusnya mampu menghadirkan solusi dari berbagai masalah sosial dan politik (yang ujung-ujungnya merembes kemasalah sosial juga) di negeri ini. Tetapi, sudah lebih dari 25 tahun fakultas ini berdiri dan mereka tetap ada.

Menanggapi rasa iba itu, saya segera merogohkan kantong, berbalik dan berharap. Berharap agar selembar uang ribuan yang saya letakkan dapat memberi sedikit pertolongan dalam dirinya. Saya melangkah pergi. Membawa rasa iba dan rasa sesal karena tidak bisa memberi lebih banyak lagi. Dan rasa sesal itu semakin menjadi-jadi saat saya membayangkan bagaimana rasanya ada di antara mereka. Bagaimana rasanya duduk dan menengadahkan tangan. Menyatakan diri lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Jiwa ku pasti akan sangat sakit. Karena saya adalah manusia. Ditakdirkan memiliki ego dan rasa berharga. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana rasa berharga itu bisa tetap ada. lalu saya bertanya, cukupkah dengan selembar ribuan yang saya berikan? Bagaimana jika semua teman2 saya di universitas ini turut memberi sumbangan. Apakah akan menjawab pertanyaan?

Bagi saya tidak.

^mari berhenti sejenak^

Postingan kali ini ditulis di sebuah laboratorium komputer di Fakultas. Tidak ada yang istimewa. Isinya hanya sekumpulan komputer dan suara ketak-ketik dari mereka yang sibuk bergumul dengan dunia maya.

Lalu aku melayangkan pandangan ke arah jendela kaca. KDi luar angin sedang berhembus kencang dan daun-daun sibuk menari-nari tanpa irama. Cukup lama pandangan kuarahkan ke sana. Sampai-samapi aku tersadar dan bertanya-tanya sudah berapa lama?

Dan aku mulai  melihat hal lainnya. Suatu fakta bahwa terkadang hal-hal disekitar kita tidak lagi menjadi terlalu penting. Rumput, pohon, awan, orang-orang yang berlalu lalalng, semuanya menjadi makhluk-makhluk asing penyemarak kehidupan kita. tidak lebih.

Kita (dalam hal ini lebih mengacu pada kata ’saya’) menjadi terlalu sibuk dengan tugas, tuntutan, capaian, dan waktu terus memburu kita. Semuanya menjadi sangat cepat. Tidak adalagi waktu unutk sekadar menikmati atau bahkan mengucap syukur atas apa yang telah ditata dengan begitu luar biasa (oleh Dia) dalam hidup kita.

‘changes’

Ada banyak orang yang sangat menyukai perubahan dan datangnya hal-hal baru. Tantangan baru. Pengalaman baru. Dan segala sesuatu yang berbau baru ( baju baru ato pacar baru misalnya)

Tapi tak sedikit juga yang takut pada perubahan (‘mengacu pada diri sendiri ^^)

Kadang perubahan membuatku merasa takut. Bukan takut untuk menghadapinya. Karena aku punya segudang hal yang bisa mensuplai keberanian itu. Tetapi lebih karena aku takut akan perginya hal-hal lama.

sesuatu yang berubah, dan kalau aku berpaling, maka lenyaplah ia.

Takut akan hilangnya dunia yang kukenal. sesuatu yang bisa kupegang

’sahabat’

…Someone tells me that a friend is like a balloon, once u loose it, there’ll be no way back for her…

tapi kemudian aku bertanya pada diriku, apakah aku sahabat yang demikian? Sehingga ketika para sahabatku tidak mengikatku sedemikian rupa maka aku tidak akan pernah kembali dan menjadi sahabat bagi mereka?

Tidak

aku tidak ingin menjadi sahabat yang demikian. Bagiku sahabat adalah orang-orang yang untuknya sebuah komitment telah diletakkan. Tidak menjadi masalah seperti apa dia… Apa yang dilakukannya, dan seberapa banyak kekecewaan yang diletakkannya, dia tetap menjadi sahabat…

naif?

mungkin

Tapi aku hanya menggambarkan apa yang aku alami. Karena seringkali aku tidak memenuhi standar seorang sahabat. Tapi toh tetap teman-temanku ada dan berdiri siaga. Memberi telinga saat orang lain memalingkan wajah. Memberi pelukan saat yang harusnya kuterima adalah cacian. Menjadi bagian penting dalam dasar hidupku…

dan aku ingin seperti mereka

menjadi seorang sahabat

^^

‘the best one’

…If there’s someone ask me, what’s the best i have in life, I’ll answer: My deaR God…

Lahir dari keluarga tanpa ayah,  membuatku mengalami ketergantungan yang sangat parah terhadap kehadiran Tuhan. Ibuku, berulangkali menekankan tentang betapa hanya Tuhan yang menjadi batu sandaran, menjadi pegangan dan sumber kekuatan.

Pelan-pelan, Tuhan menjadi segalanya bagiku. Sulit untuk digambarkan, tetapi alam bawah sadarku dan imajinasiku menjadikan Tuhan sebagai Tuhan dalam hidupku.

Alkitab, yang penuh kata-kata sulit dan prosa-prosa yang rumit serta wahyu yang hampir mustahil untuk dimengerti, menjadi harta karun tersendiri bagiku. Setiap hari, aku berusaha membaca dan mencerna halaman demi halaman dari isinya. Menemukan bagaimana rupa Tuhan.

‘in their eyes’

seorang gadis kecil mendekatiku. Umurnya mungkin baru mencapai tujuh. Delapan, sembilan, atau mungkin sepuluh. Entahlah.

Matanya yang bening hanya sekilas menatapku.  Namun benar-benar menyentuh hatiku dengan embun kehidupan. Matanya begitu bening, begitu bersih, sehingga aku bisa katakan bahwa belum ada sampah di matanya.

…karena mata adalah cerminan hati kawan…

Tapi,  kengerian segera melandaku saat menyadari apa yang akan terjadi padanya di tahun-tahun yang akan datang. Siapa yang akan melindunginya dari jahatnya waktu-waktu yang ada. Ngeri membayangkan bagaimana masa akan merampas kejernihan di matanya. Karena apa yang bisa diharapkan dari jalanan?

Tidak ada…

Jalanan menjadi monster mengerikan yang merenggut kemurnian dari mata mereka. Membebani hati dengan perihnya kehidupan. Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak ingin mereka berlalu begitu. Meninggalkan kehampaan.  Dan duka yang menyesakkan, yang tak berkesudahan.

aku pasti tidak bisa

tidak akan pernah bisa

Satu lidi akan segera patah jika mencoba membuang seluruh daun busuk yang jatuh ke halaman.

Tapi, jika kamu menjadi lidi-lidi lain yang bergerak bersamaku…Aku yakin kita pasti bisa…

…karena mereka adalah malaikat-malaikat kita… tunas-tunas muda yang ditanam di ladang kita…

…karena mereka begitu berharga…

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!